SURABAYA – Perjalanan menuju puncak prestasi tidak selalu berjalan mulus. Hal itu dialami atlet tunggal putri Indonesia, Thalita Ramadhani Wiryawan, pebulutangkis binaan PB New Kampret yang kini menjadi salah satu pemain muda paling menjanjikan di tanah air.
Di balik pencapaiannya yang berhasil menembus jajaran 55 besar dunia, Thalita ternyata pernah berada di titik terendah dalam kariernya. Kegagalan lolos Seleksi Nasional (Seleknas) PBSI sempat membuat atlet kelahiran Surabaya, 21 September 2007 tersebut kehilangan semangat dan ingin meninggalkan dunia bulutangkis yang telah digelutinya sejak kecil.
Namun, dukungan keluarga dan ketekunan dalam berlatih membuat Thalita bangkit. Kini, namanya tidak hanya dikenal sebagai atlet Pelatnas PBSI, tetapi juga sebagai mahasiswa Universitas Negeri Surabaya (Unesa) melalui jalur Golden Ticket bagi atlet berprestasi.
Wakil Rektor IV Unesa sekaligus Pengurus Persatuan Bulutangkis (PB) New Kampret, Prof. Cahyo Dwi Kartiko, mengungkapkan bahwa bakat besar Thalita sudah terlihat sejak usia dini. Ia mulai berlatih di PB New Kampret pada 2015 hingga 2016 saat masih berusia sekitar 10 tahun.
“Prestasinya berkembang sangat cepat. Karena kemampuannya yang menonjol, pada 2017 Thalita direkrut klub Jaya Raya untuk menjalani pembinaan yang lebih intensif,” ujar pria yang akrab disapa Prof. Cahyo itu.
Selama menempuh pendidikan SMP hingga SMA, Thalita menjalani proses pembinaan di Jaya Raya. Di sana, kemampuan teknik, fisik, dan mental bertandingnya terus diasah hingga mampu bersaing di level nasional.
Meski demikian, perjalanan menuju Pelatnas tidak diraih secara instan. Sebelum dipanggil ke Cipayung, Thalita harus melewati berbagai tantangan, termasuk kegagalan dalam Seleknas yang sempat membuatnya berpikir untuk berhenti bermain bulutangkis.
Momentum kebangkitan Thalita datang ketika dirinya tampil dominan di ajang Sirkuit Nasional (Sirnas). Ia sukses menyapu bersih lima gelar Sirnas dalam satu musim dan menunjukkan konsistensi performa yang sulit ditandingi pemain seusianya.
Prestasi tersebut akhirnya membuka jalan menuju Pelatnas PBSI. Pada Desember 2024, Thalita resmi bergabung dengan pusat pelatihan nasional di Cipayung, Jakarta.
Perkembangan yang ditunjukkannya setelah masuk kegagalan itu terbilang luar biasa. Saat pertama kali bergabung, peringkat dunianya masih berada di kisaran 400 besar dunia. Dalam waktu sekitar satu setengah tahun, ranking Thalita melesat tajam hingga menembus posisi 55 dunia.
Capaian itu menjadi bukti bahwa kerja keras, disiplin, dan ketekunan mampu mengubah kegagalan menjadi kesuksesan. Di usianya yang masih muda, Thalita kini diproyeksikan menjadi salah satu tulang punggung sektor tunggal putri Indonesia di masa depan.
Selain sukses di arena pertandingan, Thalita juga memperoleh kesempatan untuk mengembangkan diri melalui pendidikan tinggi. Unesa memberikan Golden Ticket kepadanya untuk menempuh studi di Program S1 Ilmu Keolahragaan.
Menurut Prof. Cahyo, Unesa berkomitmen mendukung para atlet nasional agar tetap dapat mengejar pendidikan tanpa mengganggu karier olahraga mereka.
“Kampus kami adalah Rumah Para Juara. Atlet tetap bisa berlatih dan bertanding secara profesional, tetapi pendidikan juga harus tetap berjalan. Karena itu, kurikulum kami dirancang adaptif terhadap kebutuhan atlet berprestasi,” katanya.
Saat ini, Thalita terus menjalani program latihan di Pelatnas sekaligus mengikuti berbagai turnamen internasional untuk meningkatkan prestasi dan ranking dunia. Dengan usia yang masih 18 tahun, masa depan atlet asal Surabaya tersebut dinilai sangat cerah.
Dari seorang anak yang pernah ingin menyerah setelah gagal lolos seleksi, Thalita Ramadhani Wiryawan kini menjelma menjadi salah satu harapan baru bulutangkis Indonesia di panggung dunia.

















