SURABAYA — Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Jawa Timur mengambil langkah strategis untuk meningkatkan kualitas pembinaan atlet dengan memperkuat kerja sama olahraga bersama Pemerintah Negara Bagian Australia Barat.
Kolaborasi tersebut ditandai dengan penandatanganan Technical Agreement yang menjadi landasan bagi kedua pihak untuk mengembangkan berbagai program di bidang olahraga.
Kerja sama Jawa Timur dan Australia Barat sendiri bukan hal baru. Hubungan Sister-State kedua wilayah telah terjalin sejak 1991. Sementara kerja sama dengan KONI Jawa Timur telah berlangsung sejak 2019.
Ketua Umum KONI Jawa Timur Muhammad Nabil mengatakan, pengalaman Australia Barat dalam membangun olahraga prestasi menjadi salah satu alasan penting bagi Jawa Timur untuk memperkuat kemitraan tersebut.
“Kami memandang Australia, khususnya Australia Barat, sebagai mitra strategis yang memiliki pengalaman, sistem, dan keahlian yang maju dalam pengembangan olahraga prestasi,” kata Muhammad Nabil, Rabu (12/8/2026).
Menurut Nabil, kesepakatan tersebut harus menghasilkan program nyata. Pertukaran pengalaman dan pengetahuan diharapkan dapat membantu Jawa Timur meningkatkan kualitas sistem pembinaan atlet dari hulu hingga hilir.
Fokus Tingkatkan Kualitas Atlet
Salah satu agenda yang menjadi perhatian utama adalah pengembangan olahraga prestasi. Kedua pihak dapat melakukan pertukaran pengetahuan, pengalaman kepelatihan, pelatihan bersama, hingga membuka peluang kompetisi bagi atlet.
Program identifikasi dan pembinaan atlet berbakat juga menjadi bagian dari kerja sama. Langkah tersebut dinilai penting untuk memastikan proses regenerasi atlet Jawa Timur berjalan secara berkelanjutan.
Penguatan sport science turut menjadi perhatian. Mulai dari penyusunan program latihan, pengukuran dan evaluasi performa, pengaturan beban latihan, hingga dukungan keilmuan bagi atlet dan pelatih dapat dikembangkan melalui kolaborasi tersebut.
Nabil menilai transfer keahlian dari Australia Barat akan menjadi salah satu modal penting dalam mempersiapkan atlet Jawa Timur menghadapi persaingan olahraga di tingkat nasional maupun internasional.
“Bagi Jawa Timur, dukungan teknis dan transfer keahlian sangat penting dalam mempersiapkan atlet menghadapi kompetisi tingkat nasional dan internasional, khususnya PON XXII Tahun 2028,” ujarnya.
Ia menegaskan, pencapaian prestasi tidak bisa hanya mengandalkan bakat atlet. Proses pembinaan harus disusun berdasarkan perencanaan, metode latihan yang tepat, dukungan ilmu pengetahuan, kedisiplinan, serta evaluasi secara rutin.
“Kami ingin memastikan bahwa keberhasilan olahraga tidak diraih secara kebetulan, tetapi dibangun melalui perencanaan yang matang, kepelatihan berkualitas tinggi, dukungan ilmiah, kedisiplinan, serta evaluasi yang berkelanjutan,” katanya.
Perkuat SDM hingga Tata Kelola Olahraga
Ruang lingkup Technical Agreement tidak hanya berkaitan dengan atlet. Pengembangan sumber daya manusia olahraga juga menjadi bagian penting dari kerja sama.
Pelatih, administrator, dan tenaga pendukung olahraga berpeluang mendapatkan program pendidikan, pelatihan, serta peningkatan kapasitas. Dengan demikian, manfaat kerja sama diharapkan dapat dirasakan lebih luas oleh ekosistem olahraga Jawa Timur.
Bidang rehabilitasi medis olahraga, keselamatan olahraga, penelitian, data dan statistik olahraga, serta pengelolaan fasilitas juga masuk dalam cakupan kolaborasi.
Kedua pihak juga dapat bekerja sama dalam upaya mencegah penggunaan obat-obatan terlarang di lingkungan olahraga sekaligus memperkuat tata kelola organisasi olahraga.
Tidak hanya olahraga prestasi, kerja sama ini mencakup olahraga masyarakat. Program berbasis komunitas dapat dikembangkan untuk meningkatkan partisipasi warga sekaligus memperluas budaya olahraga di masyarakat.
Bryce Green: Hubungan Jatim-Australia Barat Sudah Panjang
WA Government Investment and Trade Commissioner to Indonesia Bryce Green menyambut baik penandatanganan kesepakatan tersebut.
Menurut Bryce, hubungan Jawa Timur dan Australia Barat memiliki sejarah panjang sehingga kerja sama di bidang olahraga menjadi salah satu bentuk konkret untuk terus mempererat hubungan kedua wilayah.
“Kerja sama ini memang layak dilakukan dan dilanjutkan karena Jawa Timur dan Australia Barat memiliki sejarah persahabatan yang panjang. Demikian juga, khususnya dengan KONI Jawa Timur, yang sejak 2019 sudah menjalin kerja sama,” ujar Bryce.
Konsul Jenderal Australia di Surabaya, Glen Askew, juga memberikan respons positif terhadap kerja sama tersebut. Dalam kesempatan itu, Glen menyebut dirinya sebagai Bonek, sebutan bagi pendukung Persebaya Surabaya.
Perjanjian teknis ini berlaku selama empat tahun sejak penandatanganan dan dapat diperpanjang berdasarkan kesepakatan tertulis kedua pihak.
Pelaksanaan program akan menyesuaikan kemampuan anggaran dan sumber daya masing-masing pihak. Jika diperlukan, kedua pihak juga dapat menyusun pengaturan teknis tambahan untuk menjalankan program kerja sama.
KONI Jatim berharap kemitraan tersebut tidak berhenti sebagai hubungan kelembagaan, tetapi berkembang menjadi program yang menghasilkan peningkatan kualitas atlet, pelatih, tenaga pendukung, serta tata kelola olahraga.
Dengan pengalaman Australia Barat dan potensi besar Jawa Timur, kolaborasi tersebut diharapkan menjadi salah satu fondasi untuk memperkuat persiapan menghadapi PON XXII 2028 dan meningkatkan daya saing atlet Jatim di panggung internasional.

















