SURABAYA – Di tengah pesatnya perkembangan industri olahraga modern, Universitas Negeri Surabaya (Unesa) melihat peluang besar yang belum banyak digarap perguruan tinggi di Indonesia. Melalui Program Studi (Prodi) Analisis Performa Olahraga (APO), Fakultas Vokasi Unesa menyiapkan sumber daya manusia baru yang diproyeksikan memiliki pasar kerja sangat luas di masa depan.
Program studi yang baru memasuki tahun kedua ini bahkan disebut sebagai satu-satunya Prodi Analisis Performa Olahraga di Indonesia. Kehadirannya menjadi jawaban atas kebutuhan dunia olahraga yang kini semakin bergantung pada pengolahan data dan teknologi dalam meningkatkan prestasi atlet.
Dekan Fakultas Vokasi Unesa, Suprapto, mengatakan kebutuhan tenaga analis performa olahraga saat ini terus meningkat. Hal tersebut terlihat dari tingginya permintaan terhadap mahasiswa APO saat ajang Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Jawa Timur.
“Kita melihat di dunia olahraga ternyata analisis performance itu luar biasa besar kebutuhannya. Pada saat Porprov, mahasiswa kita laris manis dibutuhkan oleh kabupaten dan kota. Artinya, olahraga itu tidak hanya soal teknis, tetapi bagaimana menganalisis performa agar bisa menang ternyata sangat penting,” ujar Suprapto.

Menurutnya, olahraga modern tidak lagi hanya mengandalkan intuisi pelatih. Pengambilan keputusan kini semakin didasarkan pada data yang akurat untuk mengukur kemampuan atlet, menyusun program latihan, hingga mengevaluasi performa secara menyeluruh.
Melihat perkembangan tersebut, Fakultas Vokasi Unesa optimistis lulusan APO memiliki masa depan yang cerah.
“Peluang kerja di bidang olahraga sangat-sangat terbuka. Banyak klub, KONI, dan berbagai bidang yang membutuhkan tenaga analis performa. Saya sangat yakin kebutuhan pasar masih sangat terbuka, apalagi di Indonesia ini baru satu-satunya,” katanya.
Ia menambahkan, tingginya kebutuhan pasar belum sepenuhnya diimbangi oleh ketersediaan tenaga profesional di bidang tersebut. Kondisi ini menjadi peluang besar bagi lulusan APO untuk mengisi kebutuhan industri olahraga nasional.

Meski demikian, Unesa belum berencana memperbesar kapasitas mahasiswa secara signifikan. Saat ini kuota penerimaan mahasiswa baru masih sekitar 90 orang per tahun.
“Kita ingin tidak ada mahasiswa yang kuliah tetapi tidak dilayani dengan baik, baik dari sisi sarana prasarana maupun dosennya. Karena kita masih pemula dan sedang mengembangkan fasilitas serta menyekolahkan banyak dosen. Mudah-mudahan kalau semua sudah tersedia, kuota akan kita tingkatkan lagi,” ungkapnya.
Sementara itu, Wakil Dekan Fakultas Vokasi Unesa, Abdul Hafidz, menjelaskan bahwa profesi analis performa olahraga memiliki peran strategis karena menjadi penghubung antara data dan keputusan yang diambil pelatih.
“Analisis performa olahraga adalah jembatan. Ketika ada data-data tersebut, seorang pelatih belum tentu bisa menerjemahkan data itu untuk apa digunakan. Tugas analis performa adalah menerjemahkan bagaimana program latihan bisa terukur, terstruktur, dan sistematik,” jelas Abdul Hafidz.
Menurutnya, keberadaan analis performa sangat membantu dalam mengevaluasi program latihan, mengurangi risiko cedera, hingga menentukan beban latihan yang sesuai dengan kondisi atlet.
“Di sinilah peran seorang analis performa berkolaborasi dengan pelatih, manajer, atau pemilik klub untuk menentukan dosis latihan yang tepat sehingga prestasi tinggi dapat dicapai,” ujarnya.
Abdul Hafidz juga menegaskan bahwa penggunaan analisis data dalam olahraga sudah menjadi standar di negara-negara maju.
“Di luar negeri ini sudah menjadi habit bahwa untuk mencapai prestasi tinggi harus ada analisis. Data-data tersebut kemudian diolah, dikolaborasikan, dan dielaborasikan menjadi sebuah pemahaman yang utuh untuk dipergunakan pelatih dalam mencapai target prestasi,” tuturnya.
Di sisi lain, Koordinator Prodi D4 Analisis Performa Olahraga Unesa, Fifit Yeti Wulandari, mengatakan mahasiswa sejak dini mulai dikenalkan dengan dunia kerja melalui kolaborasi bersama praktisi olahraga profesional, termasuk tim analisis performa futsal PSSI.
“Kita tadi ada tamu dari PSSI, tim analisis performa olahraga futsal, yang berdiskusi dengan mahasiswa APO angkatan 2025. Anak-anak sangat berminat dan sangat tertarik. Ini menjadi batu pijakan yang bagus untuk perkembangan olahraga ke depan,” kata mantan atlet dan pelatih lontar martil nasional ini.
Ia berharap lulusan APO nantinya dapat berkiprah di berbagai level kompetisi, mulai tingkat pelajar, Porprov, PON, SEA Games, hingga ajang internasional.
“Pelan-pelan kita tata bagaimana anak-anak nanti dilibatkan di dalam analisis, tidak hanya di tingkat Porprov, tetapi juga PON, SEA Games sampai internasional. Harapan saya seperti itu,” ujar Fifit.
Dengan semakin berkembangnya industri olahraga berbasis data, profesi analis performa diprediksi menjadi salah satu kebutuhan baru yang terus meningkat.
Kehadiran Prodi Analisis Performa Olahraga Unesa pun membuka peluang besar bagi generasi muda yang ingin berkarier di sektor olahraga tanpa harus menjadi atlet profesional.

















