SURABAYA — Kota Surabaya kembali dipercaya menjadi tuan rumah turnamen tenis junior internasional ITF Junior Widjojo Soejono International Junior Championship ke-43 Tahun 2026. Kejuaraan yang telah berlangsung selama 43 tahun tersebut dijadwalkan digelar pada 27 September hingga 4 Oktober 2026.
Turnamen tahun ini diperkirakan diikuti kurang lebih 500 atlet, terdiri atas sekitar 350 atlet nasional dan kurang lebih 150 atlet internasional dari sekitar 20 negara.
Direktur Turnamen Widjojo Soejono sekaligus Sekretaris Umum Pelti Jawa Timur, Didik Utomo Pribadi, mengungkapkan persiapan penyelenggaraan saat ini telah mencapai sekitar 90 persen.
Panitia masih melakukan penyempurnaan sejumlah kebutuhan teknis, termasuk mempersiapkan kedatangan peserta serta rangkaian pembukaan turnamen.
“Persiapan kami sudah sekitar 90 persen. Sepuluh persen sisanya akan kami rapikan sambil menunggu proses check-in peserta dan mempersiapkan pembukaan,” kata Didik.
Menurut materi panitia, penyelenggaraan ITF Junior Widjojo Soejono memiliki dua tujuan utama. Pertama, mempertahankan sekaligus melanjutkan kompetisi tenis junior internasional yang merupakan gagasan, rintisan dan inisiatif almarhum Jenderal TNI (Purn.) Widjojo Soejono.
Kejuaraan tersebut telah berlangsung selama 43 tahun dan mendapat pengakuan dari International Tennis Federation (ITF).
Kedua, turnamen menjadi kesempatan bagi atlet junior Indonesia untuk mendapatkan pengalaman bertanding menghadapi atlet-atlet luar negeri. Pengalaman tersebut diharapkan dapat melahirkan petenis Indonesia yang mampu berprestasi di tingkat internasional.
Peserta dari 20 Negara
Turnamen tahun ini kembali mendapat respons besar dari peserta internasional. Panitia mencatat kurang lebih 150 atlet internasional akan ambil bagian dengan jumlah negara peserta sekitar 20 negara.
Peserta tersebut berasal dari berbagai negara, antara lain Thailand, Filipina, Jepang, Korea Selatan, China, Taiwan, China, India, Malaysia, Amerika Serikat, Singapura, Australia, Hong Kong, Inggris, Polandia, Kamboja, Bangladesh, Swiss, Jerman, Vietnam, Sri Lanka, Pakistan, Myanmar, Arab Saudi dan Afrika Selatan.
Dengan jumlah peserta internasional tersebut, kejuaraan di Surabaya diharapkan menjadi ruang bagi petenis junior Indonesia untuk memperoleh pengalaman bertanding melawan pemain dari berbagai negara.
Sementara dari dalam negeri, panitia memperkirakan terdapat sekitar 350 atlet nasional yang mengikuti berbagai kelompok umur.
Lima Venue untuk Menampung Peserta
Jumlah peserta yang cukup besar membuat panitia tidak hanya mengandalkan satu lokasi pertandingan. Lima venue tenis disiapkan untuk memastikan pertandingan dapat berlangsung efektif sekaligus mengurangi antrean pertandingan.
Lima lokasi tersebut adalah Lapangan Tenis Kodam V/Brawijaya, Lapangan Tenis Marinir Gunung Sari Surabaya, Lapangan Tenis PDAM Surya Sembada Ngagel Kota Surabaya, Lapangan Tenis Kampus UNESA Surabaya, dan Lapangan Tenis Pratama Surabaya.
Penggunaan masing-masing venue juga disesuaikan dengan jadwal pertandingan. Lapangan Tenis Kodam V/Brawijaya digunakan pada 27–30 September, Lapangan Tenis Marinir Gunung Sari pada 27 September–1 Oktober, Lapangan Tenis PDAM Surya Sembada pada 27 September–3 Oktober, Lapangan Tenis Kampus UNESA pada 26 September–3 Oktober, sedangkan Lapangan Tenis Pratama pada 27 September–3 Oktober 2026.
Untuk pertandingan yang masuk dalam kalender ITF, panitia memusatkan pertandingan di kawasan Lapangan Tenis Kampus UNESA, Lidah Wetan.
Menurut Didik, strategi tersebut diperlukan untuk menghindari antrean panjang. Apalagi tahun ini ITF menerapkan format round robin, yang memungkinkan pemain bertanding lebih banyak sebelum memasuki babak gugur.
“Kalau hanya dua tempat, waktu tunggu pemain akan terlalu lama. Dengan jumlah peserta sebanyak ini, bisa saja mereka baru mendapat giliran bertanding tengah malam,” jelasnya.
Kawasan UNESA dipandang memiliki fasilitas yang cukup mendukung pelaksanaan turnamen internasional. Selain lapangan outdoor, terdapat dua lapangan indoor yang memungkinkan pertandingan tetap berlangsung hingga malam.
Fasilitas penunjang seperti tempat istirahat pemain, pelatih dan wasit juga menjadi salah satu pertimbangan.
Didik menyebut terdapat pembicaraan mengenai kemungkinan penambahan dua lapangan tenis di kawasan tersebut. Jika terealisasi, kapasitas penyelenggaraan pertandingan diyakini semakin besar.
Pertandingan Kelompok Umur 8 hingga 18 Tahun
Selain nomor internasional, turnamen juga mempertandingkan sejumlah kelompok umur. Berdasarkan materi panitia, nomor yang dipertandingkan meliputi kelompok umur 8 tahun, 10 tahun, 12 tahun, 14 tahun, 16 tahun, serta kelompok umur 18 tahun untuk nomor internasional.
Format tersebut membuat kejuaraan tidak hanya menjadi ajang bagi petenis junior yang sudah berada di level internasional, tetapi juga menjadi wadah kompetisi bagi pemain usia dini.
Dengan demikian, ITF Junior Widjojo Soejono memiliki fungsi ganda, yakni sebagai kompetisi internasional sekaligus bagian dari proses pembinaan petenis muda secara berjenjang.
Pembukaan 28 September
Rangkaian ITF Junior Widjojo Soejono 2026 akan diawali dengan acara pembukaan pada 28 September 2026.
Pembukaan dijadwalkan berlangsung pukul 09.00 WIB di Lapangan Tenis Kodam V/Brawijaya. Ketua Umum PP Pelti Prof. Nurdin Halid dijadwalkan hadir untuk membuka turnamen.
Sementara proses pendaftaran peserta ITF masih berlangsung hingga 7 September. Karena itu, panitia belum dapat memastikan secara keseluruhan daftar pemain unggulan yang akan berlaga.
Namun, sejumlah petenis nasional junior dipastikan ikut ambil bagian dalam kejuaraan tersebut.
Secara keseluruhan, pertandingan dijadwalkan berlangsung mulai 27 September hingga 4 Oktober 2026, dengan waktu pelaksanaan dimulai sekitar pukul 08.00 WIB hingga selesai dan menyesuaikan kebutuhan pertandingan.
Jadi Ajang Regenerasi Petenis
Didik menegaskan bahwa keberadaan turnamen ini tidak hanya bertujuan menghadirkan kompetisi internasional di Surabaya. Kejuaraan tersebut juga menjadi bagian dari proses pembinaan dan regenerasi petenis muda.
Terlebih, tenis Jawa Timur selama ini memiliki tradisi prestasi di tingkat nasional. Pembinaan atlet secara berjenjang dinilai menjadi salah satu kunci untuk mempertahankan capaian tersebut.
Rencana perubahan ketentuan usia atlet pada PON juga menjadi tantangan tersendiri bagi Pelti Jawa Timur. Dalam Rakernas Pelti, muncul ketentuan mengenai batas usia maksimal 25 tahun, dengan tetap memberikan kesempatan kepada satu atlet senior putra dan satu atlet senior putri.
“Kondisi ini menjadi tantangan bagi pembinaan kami. Harapannya, pembinaan yang berjenjang, berkesinambungan dan berkelanjutan bisa melahirkan atlet-atlet muda yang siap mendukung prestasi senior,” ujar Didik.
Di sisi lain, Didik berharap pemerintah daerah turut memperhatikan kebutuhan fasilitas tenis. Menurutnya, Jawa Timur membutuhkan lapangan tenis komunal yang memenuhi standar pertandingan internasional.
Ketersediaan fasilitas tersebut dinilai dapat membuka peluang lebih besar bagi Surabaya dan Jawa Timur untuk menjadi tuan rumah berbagai kompetisi tenis tingkat internasional pada masa mendatang.
Dengan dukungan lima venue, kehadiran ratusan atlet nasional dan internasional, serta kesempatan bertanding melawan pemain dari berbagai negara, ITF Junior Widjojo Soejono 2026 diharapkan menjadi momentum penting bagi peningkatan kualitas, jam terbang dan regenerasi petenis muda Indonesia.

















