SURABAYA – Polemik dunia otomotif Surabaya memanas. Ketua Ikatan Motor Indonesia (IMI) Kota Surabaya, Samsurin, melontarkan kecaman keras terhadap penyelenggaraan 2026 IIMS Road Challenge yang digelar oleh Indonesia International Motor Show (IIMS) bersama Dyandra Promosindo.
Event otomotif bertajuk 2026 IIMS Road Challenge tersebut dijadwalkan berlangsung pada 31 Mei 2026 mulai pukul 07:30–13:00 WIB
dengan start dan finish di Grand City Surabaya
Dalam poster resmi acara, peserta diajak menjelajahi Kota Surabaya dengan konsep tantangan otomotif berhadiah jutaan rupiah. Penyelenggara juga menawarkan berbagai fasilitas mulai dari snack, lunch, goodie bag, car tag race attributes hingga subsidi BBM.
Namun di balik kemeriahan event tersebut, IMI Surabaya justru menilai kegiatan itu sebagai bentuk pengabaian terhadap organisasi resmi otomotif di daerah.
“IMI Kota Surabaya sangat menyayangkan adanya kegiatan otomotif di Surabaya yang tidak melibatkan IMI Surabaya sebagai organisasi resmi yang selama ini membina komunitas otomotif Kota Pahlawan,” tegas Samsurin.
Menurut Samsurin, penyelenggaraan IIMS Road Challenge 2026 tidak sekadar persoalan event hiburan, tetapi menyangkut tata kelola dan regulasi dunia otomotif nasional.
Ia menegaskan kegiatan otomotif seperti road challenge, slalom, dan agenda sejenis seharusnya tidak digelar tanpa koordinasi dengan IMI sebagai induk organisasi kendaraan bermotor.
“Kalau sekadar pameran mobil dan motor silakan. Tapi kalau sudah masuk kegiatan otomotif yang memiliki regulasi resmi, IMI wajib dilibatkan. Jangan membuat event seolah dunia otomotif ini milik kelompok tertentu,” ujarnya.
Samsurin bahkan secara terbuka menyebut Dyandra Promosindo dan IIMS tidak menghormati etika penyelenggaraan kegiatan di Surabaya.
“Kalian datang ke rumah orang sebagai tamu, tapi tidak menjunjung pepatah ‘di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung’. Ini bentuk ketidaketisan penyelenggara,” katanya.
*IMI Sebut Event Berpotensi Rusak Ekosistem Otomotif Surabaya*
Kecaman IMI Surabaya semakin keras lantaran event tersebut digelar bertepatan dengan momentum Hari Jadi Kota Surabaya yang selama ini identik dengan agenda otomotif resmi di Sirkuit Bung Tomo.
Menurut Samsurin, Sirkuit Bung Tomo seharusnya menjadi pusat seluruh kegiatan otomotif kota agar ekosistem dan fasilitas yang dibangun pemerintah tetap hidup dan maksimal.
“Kalau semua event otomotif digelar di sembarang tempat, maka fungsi Sirkuit Bung Tomo menjadi tidak maksimal. Ini merugikan masyarakat dan Pemerintah Kota Surabaya,” tegasnya.
Ia menilai langkah penyelenggara menggelar event di luar skema pembinaan IMI dapat memecah ekosistem komunitas otomotif yang selama ini sudah dibangun bersama.
IMI Surabaya sendiri mengaku telah melayangkan surat resmi kepada Disporapar serta meminta IMI Jawa Timur mengevaluasi kegiatan tersebut.
Samsurin meminta ada tindakan tegas apabila ditemukan pelanggaran terhadap Pedoman Nasional Organisasi Kendaraan Bermotor.
“Kami meminta Disporapar dan IMI Jawa Timur turun tangan. Kalau kegiatan ini melanggar aturan organisasi kendaraan bermotor, maka harus dibatalkan,” tandasnya.
Di akhir pernyataannya, Ketua IMI Kota Surabaya itu menegaskan sikap organisasinya terhadap penyelenggara event.
“IMI Kota Surabaya mengecam IIMS dan Dyandra Promosindo karena dinilai tidak beretika dalam menjalankan kegiatan otomotif di Surabaya,” pungkas Samsurin.

















